Kenapa masa depan menyimpan misteri, karena disanalah kita belajar merencanakan, berikhtiar, berharap, cemas dan ujungnya KehendakNya lah yang menentukan

Senin, 03 November 2014

Tips Keharmonisan Rumah Tangga

SIAPA PUN yang telah mengikatkan diri dalam tali pernikahan tentunya menginginkan atmosfer rumah tangga yang harmonis. Maka yang harus dipikirkan pertama kali adalah bagaimana melakukan harmonisasi hubungan suami-istri. Menjaga keharmonisan pasangan suami-istri (pasutri) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan usaha dan pengorbanan.

Berikut ini adalah sepuluh tips mewujudkan keharmonisan pasutri, sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah:

1. Berupaya saling mengenal dan memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap yang berlainan pada setiap pihak dari yang lain. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasutri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi, sehingga dapat maju ke depan dan mewujudkan keharmonisan.

2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam satu kehidupan yang direkatkan dalam tali pernikahan; satu ikatan suci yang mempertemukan keduanya. Tak pelak lagi, keduanya harus berbagi suka-duka; membagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Keduanya saling berkelindan untuk menyongsong satu cita-cita luhur yaitu mewujudkan tatanan kehidupan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk kasih sayang di masing-masing pihak, suami membutuhkan cinta istri, dan istri pun membutuhkan cinta suami.

…Suami dan istri harus berbagi suka-duka, membagi kesedihan dan kegembiraan bersama…

Sabtu, 01 November 2014

13 Gejala Kehambaran Pernikahan

Berapa lamakah kebahagiaan dalam pernikahan bisa dipertahankan?
Jawaban dari pertanyaan ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi harapan. Dari sisi ini, tentu diharapkan pernikahan akan memberikan kebahagiaan dalam waktu yang tidak terbatas. Kedua, sisi kenyataan. Dari sisi ini, tidak ada rumus pasti tentang usia kebahagiaan hidup berumah tangga. Ada yang sejak awal menikah sudah menderita. Ada pula yang bisa mempertahankan kebahagiaan hingga usia tua. Namun sebuah survei menunjukkan bahwa kebanyakan pernikahan mulai terasa hambar setelah 3,5 tahun.

Dailymail melaporkan survei yang dilakukan terhadap duaribu pasangan menikah, yang menunjukkan bahwa setelah tiga setengah tahun usia pernikahan, mereka mulai kehilangan kebahagiaan. Penelitian tersebut juga memberikan beberapa tanda atau gejala bahwa pernikahan sudah mulai terasa hambar, di antaranya adalah 13 gejala berikut ini:
1. Lebih memilih tidur daripada bercinta.
2. Tidak pernah lagi berkencan.
3. Lupa mengatakan "Aku mencintaimu."
4. Tidak saling mencium lagi.
5. Tidur di waktu yang tidak bersamaan.
6. Tidak saling memeluk.
7. Memakai pakaian yang tidak menarik di rumah.
8. Suami berasumsi bahwa istri yang akan melakukan semuanya.
9. Istri tidak lagi ingin memakai make up untuk menyenangkan suaminya.
10. Tidak ada ucapan terima kasih di antara mereka berdua.
11. Istri mulai tidak memperhatikan perawatan tubuhnya.
12. Sering berebut acara televisi.
13. Hal-hal kecil mulai sering membuat pasangan bertengkar.
Tigabelas gejala tersebut sesungguhnya lazim dijumpai dalam sebuah pernikahan yang sudah mulai memasuki usia lanjut. 
Namun jika masih di bawah lima tahun pernikahan sudah banyak mengalami gejala-gejala tersebut, artinya datangnya kehambaran hubungan itu terlalu cepat. Pada pasangan yang sudah berusia tua, aktivitas fisik memang sudah akan semakin berkurang. Namun kedalaman hubungan mereka semakin terasa. Hubungan persahabatan yang dewasa, saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, saling tergantung satu dengan yang lainnya, walaupun aktivitas fisik sudah tidak seperti waktu muda lagi. (Ust. Cahyadi Takariawan)

Agar Kritik Orang Tak Buat Sakit Hati Kita ^^


Merespon dan menanggapi kritik bukanlah perkara gampang. Setiap orang pernah mendapat kritik, entah itu yang destruktif atau konstruktif. Namun yang paling sering kita terima adalah kritik yang bisa membuat merah telinga. Kritik pedas yang kadang membangkitkan emosi.
Seseorang ketika mendapat kritik, bisa merasa hancur, down, atau terbentuk semakin matang tergantung pada kemampuannya dalam menanggapi kritik itu. Kepribadian seseorang bisa berubah menjadi negatif atau positif tergantung bagaimana ia meresponnya.
Menangani kritik dengan manis perlu dipelajari. Tak bisa dielak bahwa di saat-saat tertentu kita akan menerima kritik. Atau sebaliknya, kita yang mengkritik. Memberi dan menerima kritik adalah wajar selama itu didukung oleh fakta autentik.
Masalahnya, kerapkali kita bereaksi berlebihan dan emosi terhadap suatu koreksi meski kritik itu didukung olek fakta, terlebih lagi tanpa fakta sama sekali, atau kritik yang tidak adil. Hal seperti ini biasanya berasal dari orang yang lebih suka melihat kekurangan orang lain, tidak melihat kepada diri sendiri. Selumbar di mata orang nampak, balok di mata sendiri tak dilihat. Bahkan tidak sedikit orang yang terlalu kriti(ku)s sampai-sampai mereka tidak bisa menikmati hidup. Satu-satunya kritik yang dibuat untuk diri sendiri adalah bahwa ia belum cukup kritis terhadap orang lain.
Kita perlu belajar merespon kritik dengan manis. Aristoteles berkata, Kritik adalah sesuatu yang bisa Anda hindari secara mudah dengan tidak mengatakan apa pun, tidak melakukan apa pun, dan tidak menjadi apa pun. Tapi kita ingin menjadi seseorang, somebody, melakukan sesuatu yang berguna bagi khalayak. Efek dominonya, kritik akan datang.

Lalu bagaimana menanganinya?
Pahami perbedaan antara kritik destruktif dan konstruktif.